Jumat, 13 Februari 2009

Eyang sakit, aku diam

Tadi malam eyang berbicara ke papa melalui telpon. Eyang yang biasanya berbicara dengan gagah tinggi, kali ini berbicara seperti prajurit tidak berdaya menyampaikan laporan terakhirnya untuk medan perangnya esok . Dengan nada yang terbata-bata. Berusaha sebisa mungkin untuk tidak menangis namun sesekali tangisannya tidak terbendung. Air matanya keluar pelan-pelan. Berulangkali mengucapkan terimakasih ke papa dan mama.Entah untuk apa eyang berterima kasih, aku berusaha untuk tidak mengerti. Eyang juga tidak henti-hentinya mengucapkan "gusti allah" berkali-kali, tentunya menyebabkan isi percakapannya mengerikan buatku. Percakapan selesai dan eyang menutup telponnya. Mendadak raut mukanya datar seperti sebelum menelpon. Nyaris tidak terlihat sebelumnya ia menangis. Mungkin ia juga tidak sadar, aku pura-pura tidur di sofa ruang tamu.

Eyang di vonis kanker sekitar 2 hari yang lalu. Jadi akhir-akhir ini suasana rumah ku aneh. Ya walaupun Orang-orang dirumah berusaha mencairkan suasana perlahan-lahan. Tapi beberapakali eyang kepergok olehku sedang menangis. Ketika itu beliau pasti langsung menghapus air mata seolah tidak ada apa-apa. Dan kembali berekspresi dingin . Ya aku pun tidak bisa apa-apa. Aku memang bukan anak yang berbakat untuk suasana miris seperti itu. Biasanya aku diam dan tidak membahasnya sama sekali. Sesekali mengucapkan kata-kata kecil yang mungkin tidak terdengar penting. Ya, tapi hanya itulah yang bisa kuperbuat. Aku hanya bisa berduka dalam hati , dan sulit berduka untuk bersama. Sebagai realisasi dukaku aku akan diam seribu bahasa ke tempat perenungan yang tidak penting.

Eyangku orang tua yang kolot. Pengaruh budaya tuanya begitu besar. Begitu juga pada pola pikirnya terhadap kelakuanku. Aku jadi rindu pidato-pidatonya ketika aku melakukan kesalahan tertentu. Biasanya aku memang tidak pernah mencerna begitu serius pidatonya. Ya, pidatonya mungkin tidak terlalu signifikan buat perkembangan sikapku. Tapi setidaknya aku tahu itu bentuk realisasi rasa sayang eyang . Dan eyang memang "sosok kakek" yang perhatian pada cucunya. Eyang seringkali repot ke masalah tertentu yang harusnya cuma aku yang repot. Waktu pendaftaran ITB aku pernah lupa membawa duit pendaftaran. Kondisinya benar-benar kacau ketika itu. Ya, akhirnya dengan kondisi yang mendadak, eyang yang mengantarkan nya dengan susah payah. Setelah itu seperti biasa eyang memberi pidato-pidatonya. Dan aku juga seperti biasa hanya tersenyum nakal sambil pura-pura mendengarkan pidatonya. Itu cuma satu contoh. masih banyak contoh lainnya. Eyang pernah membayar tagihan-tagihan listrik,air, melihat informasi universitas, mendatangi panggilan guru dan lain-lain. Masih banyak cerita lainnya.

sekarang Eyangku sudah sangat tua. Sebenarnya aku tidak tega untuk melihat eyang harus bergulat dengan masalah seperti itu. Duduk termenung seperti orang depresi. Walapun sesekali bersandiwara untuk menunjukan ke orang-orang bahwa tidak ada masalah yang besar. Ya tapi aku kagum ke beliau. Eyang memang masih gagah untuk ukuran seusianya(mungkin). Eyang masih terlihat punya semangat untuk itu. Bahkan tadi siang dia berkata "Eyang pengen liat tito lulus" sambil sedikit mengangis. Entah kenapa tiba-tiba berbicara seperti itu. Aku hanya bisa tersenyum kecil tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Ya lagi-lagi aku berduka dalam hati.

Besok Lusa atau entah kapan...eyang akan dioprasi
tinggal menunggu kondisi tubuh beliau.
semoga tidak terjadi apa-apa
semoga lekas sembuh eyang.
maaf kata-kata ini begitu susah terucap langsung

dari cucumu yang menyayangimu yang kelihatannya tidak terlalu menyayangimu
tito masih pengen diliat eyang waktu wisuda
mungkin sampai nikah nanti (tertawa miris)