aku tersesat di lorong tertentu dan kalian bingung karenanya
Pikiran ku fluktuatif sekarang
dan aku kembali ingat masa-masa itu
ketika aku belajar karena ingin belajar
aku mencoba mengikuti program pembelajaran dengan baik
aku tunduk oleh guru dan bertanya ketika tidak mengerti
aku berniat menyusunnya perlahan-lahan
jadi ketika aku keluar,
materi-materi itu sudah terususun rapi padaku
dan akhirnya aku menyelesaikannya dengan sebagaimana mestinya
tapi entah kenapa,
secara mendadak aku tidak stabil mengikuti jalannya
sesekali aku berbelok arah
namun pada akhirnya aku kembali pada jalan semula
tapi sekali lagi aku berbelok arah
dan lagi-lagi aku kembali ke jalan semula
sampai sekarang aku anggap itu proses pembelajaran hidupku
dan tidak ada yang kusesali
pada saat itu sampai sekarang ini,
begitu banyak yang berubah
pikiran malaikatku dulu tercecer secara perlahan-lahan
dan bukan diganti pikiran setan untuk selanjutnya
aku hanya berganti untuk malaikat yang berbeda
(begitu sulitnya aku menjelaskan hal ini, jujur ini agak terlalu kompleks buatku)
karena dahulu, kupikir aku bisa
tapi rupanya tidak sesuci itu
bahkan untuk mereka yang sedang berdoa di rumahnya
berdoa untuk muridnya
dan aku tunduk kepadamu,
maaf ketika aku begitu angkuh terhadap kalian (di belakang)
aku hanya sedang berada pada faseku
dan aku tidak sengaja untuk itu
rupanya,
banyak lorong-lorong yang belum kusinggahi tentang kalian
aku memang penggembara yang angkuh
begitu cepat mengambil kesimpulan ketika dahulu
dan sekarang,
aku hanya bisa mengucapkan terimakasih untuk apa yang kalian berikan
mudah-mudahan menjadi bekal untukku kelak
terimakasih wahai bapak dan ibu,
dan maaf aku tidak bisa menangis untuk kalian
dan sampai kapanpun aku senantiasa menundukan kepalaku di bawah ragamu yang tinggi
bamm..........bimm............bummm
tulisan ini begitu acak
aku juga bingung kapan aku memulai
dan kapan aku akan mengakhiri
ketika aku hanya ingin menulis dan otakku berada di ujung jari kaki ku(bukan di dengkul)
hanya jantung dan kerangka yang kugunakan
dan buku tata bahasa kusimpan dalam laci ku paling pojok
dan aku kembali ingat masa-masa itu
ketika aku belajar karena ingin belajar
aku mencoba mengikuti program pembelajaran dengan baik
aku tunduk oleh guru dan bertanya ketika tidak mengerti
aku berniat menyusunnya perlahan-lahan
jadi ketika aku keluar,
materi-materi itu sudah terususun rapi padaku
dan akhirnya aku menyelesaikannya dengan sebagaimana mestinya
tapi entah kenapa,
secara mendadak aku tidak stabil mengikuti jalannya
sesekali aku berbelok arah
namun pada akhirnya aku kembali pada jalan semula
tapi sekali lagi aku berbelok arah
dan lagi-lagi aku kembali ke jalan semula
sampai sekarang aku anggap itu proses pembelajaran hidupku
dan tidak ada yang kusesali
pada saat itu sampai sekarang ini,
begitu banyak yang berubah
pikiran malaikatku dulu tercecer secara perlahan-lahan
dan bukan diganti pikiran setan untuk selanjutnya
aku hanya berganti untuk malaikat yang berbeda
(begitu sulitnya aku menjelaskan hal ini, jujur ini agak terlalu kompleks buatku)
karena dahulu, kupikir aku bisa
tapi rupanya tidak sesuci itu
bahkan untuk mereka yang sedang berdoa di rumahnya
berdoa untuk muridnya
dan aku tunduk kepadamu,
maaf ketika aku begitu angkuh terhadap kalian (di belakang)
aku hanya sedang berada pada faseku
dan aku tidak sengaja untuk itu
rupanya,
banyak lorong-lorong yang belum kusinggahi tentang kalian
aku memang penggembara yang angkuh
begitu cepat mengambil kesimpulan ketika dahulu
dan sekarang,
aku hanya bisa mengucapkan terimakasih untuk apa yang kalian berikan
mudah-mudahan menjadi bekal untukku kelak
terimakasih wahai bapak dan ibu,
dan maaf aku tidak bisa menangis untuk kalian
dan sampai kapanpun aku senantiasa menundukan kepalaku di bawah ragamu yang tinggi
bamm..........bimm............bummm
tulisan ini begitu acak
aku juga bingung kapan aku memulai
dan kapan aku akan mengakhiri
ketika aku hanya ingin menulis dan otakku berada di ujung jari kaki ku(bukan di dengkul)
hanya jantung dan kerangka yang kugunakan
dan buku tata bahasa kusimpan dalam laci ku paling pojok


1 Komentar:
kadang tangisan lebih tak berarti dari cemoohan.
dan kadang satu nilai introspeksi,
bisa membuat dunia cerah karenanya.
atau berlinang air mata ketika dia kemudian pergi.
nikmatilah.
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda