Kesederhanaan itu Besar
Pada waktu-waktu tertentu, saya sadar “Sederhana” telah membawa saya pergi ke tempat yang menyenangkan. Tapi di waktu-waktu tertentu yang lain, seringkali saya tidak sadar bahwa “Sederhana” akan membawa saya ke tempat yang menyenangkan. Seringkali ia lebih mirip sosok yang menyebalkan. Dia tekun mengganggu kita ketika kita sedang asik di wilayah nyaman kita.
Ketika saya pada kondisi tertentu, dimanasaya sedang duduk di sofa malas, sambil menonton acara televisi yang saya sendiri tidak tahu maksudnya. Berpindah dari channel satu ke channel yang lain.
Tiba-tiba, muncul pikiran “Habis menonton TV saya ingin belajar” atau “Saya ingin membersihkan kamar” dan masih banyak pikiran manis lainnya. Saya pikir tindakan-tindakan tadi adalah tindakan yang sederhana (itu yang mau saya bahas sekarang). Yang saya pikirkan bukanlah “Habis menonton TV saya ingin menyangkul ke sawah membantu orang tua”.
Tapi yang saya rasakan, begitu susah untuk mengangkat badan dari sofa dan melakukan pekerjaan yang dahulu direncanakan. Kata Newton, Gaya paling besar ketika mengubah benda dari kondisi diam ke kondisi bergerak. Berbeda ketika gaya itu hanya dipergunakan untuk mempertahankan kondisi awal Benda (dari gerak ke gerak). Kasus pertama membutuhkan gaya yang jauh lebih besar ketimbang kasus kedua.
Kasus pertama saya analogikan sebagai kondisi ketika saya masih berada di sofa malas. Sangat sulit untuk sekedar mengangkat badan saya, bahkan hanya untuk sekedar berdiri. Tapi ketika saya sudah berhasil mengangkat badan saya dan mencoba memulai pekerjaan yang saya rencanakan, hal itu jauh lebih mudah ketimbang mengangkat badan saya untuk memulainya.
Saya tidak mau menyalahkan iblis dalam hal ini, saya sebut itu sebagai sifat manusia yang sudah sewajarnya.
Lantas, apa hubungannya pembahasan tadi dengan kata “Sederhana” yang saya jadikan judul dari tulisan ini. Saya akan coba menghubungkannya. Dari pembahasan tadi, kebanyakan tindakan-tindakan tadi termasuk tindakan sederhana. Lain halnya ketika kita dihadapkan kepada tingkatan yang lebih rumit.
Untuk memulai pekerjaan sederhana ini sangat sulit. Apalagi, jika saya harus memulai pekerjaan-pekerjaan itu ketika saya sedang berada di wilayah nyaman/malas saya. Banyak pekerjaan-pekerjaan sederhana yang seringkali saya tunda karena alasan yang setan pun tak mengerti.
Kadang-kadang untuk menggantung handuk usai mandi, Mematikan lampu setelah mandi, menaruh odol dan sikat gigi ditempatnya,mandi tepat waktu mematikan TV atau komputer setelah pemakaian, membenarkan posisi meja ruang tamu, minum air putih sesuai dosis yang dianjurkan, makan teratur, dan masih banyak pekerjaan-pekerjaan kecil lainnya yang seringkali saya tunda.
Tadi, saya berbicara dalam hal yang sangat sederhana. Lebih sulit lagi ketika saya ingin beranjak dari sofa saya dan mengerjakan tugas sekolah untuk besok, sekedar beribadah, olahraga dan lain-lain.
Dan saya katakan sekali lagi, bagian tersulit ketika saya baru akan memulai pekerjaan tadi.
Tapi ketika saya telah melewati fase tadi, banyak perasaan positif yang menghampiri, yang sebelumnya seringkali tidak saya duga. Pada saat itu, semua berjalan mengalir. Saya seperti diajak jalan-jalan oleh “Sederhana” ke tempat-tempat yang menyenangkan. Saya merasa saya bisa lebih menghargai waktu walau hanya dengan merapikan ruang tamu, kamar mandi, membetulkan gantungan baju,dan lain-lain. Bukan mendramatisir, tapi memang begitu adanya.
Jika dalam satu hari tertentu, saya banyak mengisi hari-hari saya dengan tindakan-tindakan sederhana tadi, ketika hendak tidur malam akan terasa lebih nyenyak. Saya merasa lebih bisa mengikat banyak makna untuk hari ini.
Ketika tindakan-tindakan tadi telah menjadi kebiasaan, saya selalu merasa positif. Dan saya bersyukur punya orang tua yang dahulu tidak bosan-bosannya untuk mengajarkan saya kebiasaan-kebiasaan kecil dan sederhana itu. Dulu terasa sangat menyebalkan. Tapi sekarang, saya bisa tahu merasakan sendiri manfaatnya.
Akhir kata, saya hanya ingin mengatakan bahwa saya percaya hal-hal besar dimulai dari hal-hal yang sederhana.
Ketika saya pada kondisi tertentu, dimanasaya sedang duduk di sofa malas, sambil menonton acara televisi yang saya sendiri tidak tahu maksudnya. Berpindah dari channel satu ke channel yang lain.
Tiba-tiba, muncul pikiran “Habis menonton TV saya ingin belajar” atau “Saya ingin membersihkan kamar” dan masih banyak pikiran manis lainnya. Saya pikir tindakan-tindakan tadi adalah tindakan yang sederhana (itu yang mau saya bahas sekarang). Yang saya pikirkan bukanlah “Habis menonton TV saya ingin menyangkul ke sawah membantu orang tua”.
Tapi yang saya rasakan, begitu susah untuk mengangkat badan dari sofa dan melakukan pekerjaan yang dahulu direncanakan. Kata Newton, Gaya paling besar ketika mengubah benda dari kondisi diam ke kondisi bergerak. Berbeda ketika gaya itu hanya dipergunakan untuk mempertahankan kondisi awal Benda (dari gerak ke gerak). Kasus pertama membutuhkan gaya yang jauh lebih besar ketimbang kasus kedua.
Kasus pertama saya analogikan sebagai kondisi ketika saya masih berada di sofa malas. Sangat sulit untuk sekedar mengangkat badan saya, bahkan hanya untuk sekedar berdiri. Tapi ketika saya sudah berhasil mengangkat badan saya dan mencoba memulai pekerjaan yang saya rencanakan, hal itu jauh lebih mudah ketimbang mengangkat badan saya untuk memulainya.
Saya tidak mau menyalahkan iblis dalam hal ini, saya sebut itu sebagai sifat manusia yang sudah sewajarnya.
Lantas, apa hubungannya pembahasan tadi dengan kata “Sederhana” yang saya jadikan judul dari tulisan ini. Saya akan coba menghubungkannya. Dari pembahasan tadi, kebanyakan tindakan-tindakan tadi termasuk tindakan sederhana. Lain halnya ketika kita dihadapkan kepada tingkatan yang lebih rumit.
Untuk memulai pekerjaan sederhana ini sangat sulit. Apalagi, jika saya harus memulai pekerjaan-pekerjaan itu ketika saya sedang berada di wilayah nyaman/malas saya. Banyak pekerjaan-pekerjaan sederhana yang seringkali saya tunda karena alasan yang setan pun tak mengerti.
Kadang-kadang untuk menggantung handuk usai mandi, Mematikan lampu setelah mandi, menaruh odol dan sikat gigi ditempatnya,mandi tepat waktu mematikan TV atau komputer setelah pemakaian, membenarkan posisi meja ruang tamu, minum air putih sesuai dosis yang dianjurkan, makan teratur, dan masih banyak pekerjaan-pekerjaan kecil lainnya yang seringkali saya tunda.
Tadi, saya berbicara dalam hal yang sangat sederhana. Lebih sulit lagi ketika saya ingin beranjak dari sofa saya dan mengerjakan tugas sekolah untuk besok, sekedar beribadah, olahraga dan lain-lain.
Dan saya katakan sekali lagi, bagian tersulit ketika saya baru akan memulai pekerjaan tadi.
Tapi ketika saya telah melewati fase tadi, banyak perasaan positif yang menghampiri, yang sebelumnya seringkali tidak saya duga. Pada saat itu, semua berjalan mengalir. Saya seperti diajak jalan-jalan oleh “Sederhana” ke tempat-tempat yang menyenangkan. Saya merasa saya bisa lebih menghargai waktu walau hanya dengan merapikan ruang tamu, kamar mandi, membetulkan gantungan baju,dan lain-lain. Bukan mendramatisir, tapi memang begitu adanya.
Jika dalam satu hari tertentu, saya banyak mengisi hari-hari saya dengan tindakan-tindakan sederhana tadi, ketika hendak tidur malam akan terasa lebih nyenyak. Saya merasa lebih bisa mengikat banyak makna untuk hari ini.
Ketika tindakan-tindakan tadi telah menjadi kebiasaan, saya selalu merasa positif. Dan saya bersyukur punya orang tua yang dahulu tidak bosan-bosannya untuk mengajarkan saya kebiasaan-kebiasaan kecil dan sederhana itu. Dulu terasa sangat menyebalkan. Tapi sekarang, saya bisa tahu merasakan sendiri manfaatnya.
Akhir kata, saya hanya ingin mengatakan bahwa saya percaya hal-hal besar dimulai dari hal-hal yang sederhana.


7 Komentar:
kadang sederhana itu susah untuk dimengerti..dibilang sederhana juga gak,dibilang berlebih juga gak?haha..
to,buka blog gw ya??
www.takeawaythebiggestpartofme.blogspot.com
Buat gua,sederhana ya sederhana
namanya juga sederhana, ga rumit tapi kompleks. yang bikin rumit manusianya sendiri. sederhana itu simpel, ga macem-macem, dan ga sembunyi dari apapun. Tapi sederhana itu emang luas dan kontekstual.
Ha..ha..ha.., finally tito you understand what I asked is correct. Dulu kebayang pasti alangkah cerewetnya mama bikin peraturan ini dan itu. Ingat gak nak, kalo tito gak sholat waktu kecil karena keasikan maen bola sama adek di belakang rumah dihukum ama mama gak boleh pake komputer 2 jam. Atau jadwalnya les renang atau karate jam 4 eh jam 3 kalian sengaja tidur siang, lagi tidur mama gendong aja kalian ke mobil terus sampe di tempat les baru mama bangunin.
haha,,,
namanya juga anak2
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
TO..nyokap lw menyenangkan juga ya??
bahagialah lw karna seorang ibu yang senantiasa menjadikan anaknya menjadi yang terbaik.
yaa,
senang,,,,sangat senangg
hahaha
senang sampai jangka waktu yang tidak ditentukan
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda